Get Adobe Flash player
:: Laboratorium Filsafat Nusantara - Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada ::
Pengunjung Online
Kami punya 3 tamu online
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini4
mod_vvisit_counterKemarin25
mod_vvisit_counterMinggu ini53
mod_vvisit_counterMinggu lalu154
mod_vvisit_counterBulan ini4
mod_vvisit_counterBulan lalu359
mod_vvisit_counterKeseluruhan71194
Home Berita Filsafat Indonesia Mengenal Tokoh Filsuf Indonesia

Mengenal Tokoh Filsuf Indonesia

1. Kanwa


Biodata Mpu Kanwa tidak didapatkan dalam naskah-naskah Kawi. hanya diketahui bahwa dia hidup pada jaman Raja Airlangga,yg memerintah 1019-1042 M di Jatim. Karyana adlh Arjunawiwaha.

Isi: Arjunawiwaha merupakan suatu lakon dlm epos Mahabrata (india) dimana Arjuna sdg bertapa di gunung Indrakila. Dia bertapa utk memperoleh kesktian dan senjata guna memenangkan Bharatayuda. Pd saat itu Dewata sdg diancam serangan oleh Niwatakaca. Batara Indra memilih Arjuna utk mlwn Niwatakaca. Batara Indra akan menguji keteguhan hati Arjuna dan tujuan tapa na. Di utuslah Dewi Supraba utk menggoda. Usaha ini gagal, Batara Indra sendiri turun ke dunia,menyamar sbg seorang Brahmana dan menanyakan tujuan Arjuna brtapa. Pada dialog ini diungkapkan pemikiran filsafat mengenai kesusilaan.

Batara Indra melihat bahwa Arjuna menyanding senjata busur-panah dan pedang,kemudian bertanya apakah seorg yg sedang bertapa untuk mencapai jalan kamoksan layak membawa senjatanya.
Arjuna menjawab bahwa tujuan tapanya bukanlah mencapai kamoksan,melainkan utk memenuhi dharma ksatria memproleh kesaktian dan senjata agar unggul dalam tugas peperangan dan melindungi rakyat.
Percobaan terakhir dilakukan oleh Batara Siwa yg menyamar sbg seorang pemburu. Pada saat itu Niwatakaca mengutus Murkha menjadi seekor babi hutan utk merusak pertapaan Indrakila. Arjuna kluar dari semedinya dan melepaskan panahnya, berbarengan dgn panah Batara Siwa yg juga mengenai babi hutan. Terjadilan pertengkaran namun Arjuna sudah tahu siapa yg dihadapinya dan menghaturkan sembah baktinya. Dlm dialog diungkapkan renungan filsafat ttg hidup (metafisika).

a. Metafisika.
Renungan ttg 'ada' diwujudkan dlm pribadi Dewa Siwa yg digambarkan sbg "sarining Paramatatwa (inti dr kebenaran trtinggi)". 'hana tanhana (ada--tiada)', "sang sangkanparaning sarat (asal dan tujuan alam semesta)",
"sakala-niskalatmaka (wujud lahir bathin)". Hubungan antara manusia dgn SIwa dinyatakan "wahyadhyatmika sembahing hulun (hubungan sembah lhir bathin atw exoteric-esoteric)".

b. Etika
Renungan ttg tata susila didapatkan dalam dialog Arjuna dan Batara Indra. Etika bukan merupakan refleksi teoritis semata, melainkan merupakan kelakuan baik sbg sarana utk mncapai kesempurnaan, yaitu menjalankan "dharma ksatria". Bilamana kewajiban ini senantiasa dilakukan dgn baik dia akan mencapai kamoksan juga...

Pengertian Sangkanparaning merupakan inti filsafat Nusantara. Fenomena hidup alam semesta bukannya dianggap diam statis, melainkan bergerak dinamis. Demikian pula mengenai manusia. ANtropologi filsafat bukanlah pertama2 menanyakan : apakah manusia itu? melainkan dari mana asal manusia dan kemana dia pergi. Eksistensi manusia ditinjau secara menyeluruh dulu dan baru kemudian ditinjau dari tujuan akhirnya.

2. Tantular.


Beliau hidup pada jaman Hayam WUruk (1350-1389 M)

karya:
a. Sutasoma
b. Arjunawijaya

Isi: Sang Hyang Budha menitis kpd putra Prabu Mahaketu, raja Hastina yg brnama Raden Sutasoma. Stlh dws dia sgt rajin bribadah, cinta akan agama Budha (Mahayana). Dia tidak suka dikimpoikan dan dinobatkan menjadi raja. Pada suatu malam dia meloloskan diri dari negaranya, pintu2 trtutup membuka smuanya dgn sendirinya utk memberi jalan kpd na. Di dlm perjalanannya Sutasoma tb2 brhenti pada sbuah candi di tgh hutan dan mengadakan smedi. Kemudian meneruskan perjalannya mendaki gunung Himalaya diantarkan oleh bbrapa org pendeta. Mereka sampa kepada sebuah pertapaan. Di sini di ceritakan bahwa para petapa srg mendapat gangguan dr seorang raja, titisan raja raksasa, yg gemar bersantap daging org dan bernama Purusada. Kegemaran akan daging manusia semakin bertambah dan Purusada akhirnya menjadi raksasa penghuni hutan. Dia mendapat luka pada kakinya yg tdk kunjung sembuh.

Para pendeta meminta Sutasoma utk membunuhnya,tetapi dia menolak. Di dlm perjalanan strusnya dia brturut2 diserang oleh raksasa berkepala gajah dan seekor naga, yg k2nya dpt dikalahkannya. Ketika sampai pada suatu tebing ditemuinya seekor macan betina yg hendak makan anaknya sendiri. Sutasoma menawarkan diri utk menggantikan anak macan. Maka dihisaplah darahnya oleh si macan dan meninggallah Sutasoma. Namun stlh mlihat mayat Sutasoma trgeletak di tanah, macan itu menyesali perbuatannya dan menangis pada tlapak kaki mayat. Datanglah Batara Indra utk mnghidupkan kembali Sutasoma. Stlh kejadian ini Sutasoma brtapa dlm sbuah goa. Para dewa mencoba keteguhan tekad sang petapa dgn brbagai cobaan dan godaan, namun kmudian dia menjelma sbg BUdha Wairocana. Stlh pulih kembali menjadi Sutasoma, dia berniat plg ke Hastina. Di perjalanan dia berjumpa dgb balatentara Prau Purusada yg sdg dikejar oleh Prabu Dasabahu. Trnyata ratu ini msh saudara sepupnya sendiri dan dia diminta plg ke negerinya. Sutasoma kemudian dinikahkan dgn adik Prabu Dasabahu. Stlh perhelatan selesai dia mneruskan pulang ke Hastina dan dinobatkan sbg raja, bergelar Prabu Sutasoma.
Pada waktu itu raksasa Purusada, yg tlah brnazar akan mempersembahkan 100 raja utk santapan Batara Kala bilamana luka di kakinya dpt sembuh,tlah brhasil mnawan 99 raja. Utk mendapatkan seorang raja lgi dia mnyamar sbg pendeta tua dan dtg mengemis kpd Raja Widarba, yg kmudian dpt ditawanna. Kini ke 100 raja itu hendap dipersembahkan kpd Batara Kala namun ditolaknya. Btara Kala menghendaki daging Sutasoma. Sang Prabu bersedia menjadi santapan Batara Kala, asal para raja lainnya dibebaskan. Kerelaan ini sangat berkenan di hati Batara Kala dan bahkan Purusada pun menjadi terharu. DIa bertobat dan berjanji tdk akan makan daging manusia lgi.

Renungan FIlsafat.
a. Metafisika
Di dlm rnungan filsafat Nusantara, konsepsi mengenai "ada" bukanlah diperoleh dari penalaran rasio namun melalui pengalaman atw penghayatan bathin. Sesungguhnya semua pengetahuan pada dsr nya adlah "experimental knowledge" namu pengetahuan ini lbh ditekankan pada panca indra dan rasio lbh mudah dijadikan pengetahuan konseptual. Sbaliknya pengetahuan yg diperoleh melalui penghayatan batin, srg tdk dpt dinyatakan dgn kata dlm kalimat sistematis logis, mlainkan mlalui perumpamaan, simbolisme atw btk syair.. (ya ampir sm kek ungkapan wong jowo nggone semu)
Pada jaman Indonesia Hindu Sang Hyang Tunggal ini dipribadikan mnjadi Batara Siwa dan kemudian dalam kitab Sutasoma ini menjadi kesatuan Siwa-Budha, seperti trlukis dlam sbgian syair:

"Hyang Budha tanpahi Siwa Raja Dewa...
mangka Jinatwa lawan Siwatatwa tunggal,
bhineka tunggal ika
tanhana dharmma mangrwa"

"Sang Hyang Budha tiada beda dgn Sang Hyang SIwa, raja segala dewa.....
Karena hakekat Jina (Budha) dan Hakekay Siwa adalah satu.
Berbeda namun Esa
tiada kebenaran bermuka dua".

b. Etika
tat laku susila jg didasarkan atas dharma. Di dlam kitab Arjunawiwaha dharma diartikan sbg kewajiban seorang ksatria, sdgkan disini sbg kewajiban trhadap sesama makhluk, sesuai ajaran Budhisme Mahayana.

3. Yasadipura I (1729-1801 M)


Hidup pada jama Renaissance of Classical Javanese Literatur (Kebangkitan kembali kesusatraan Jawa Kuna)
Pada jaman berkembangnya renaissance ini ada dua tokoh Yasadipura yaitu ayah dan anak (Yasadipura II). Yasadipura II kmudian diberi gelar Sastranegara. Yasadipura II adalah kakek dari R.Ng Ranggawarsita. Karya2 Yasadipura I dan II sukar dibedakan karena anaknya srg menulis kembali karya2 ayahnya.

Karya:
a. Dewa Ruci
b. Bratayuda, Ramayana, Mintaraga

Isi: Tokoh2 pandawa bersaudara, crita ini bermula ktika Durna memerintah Bima utk mencari "Tirta Pawitra", air hidup. Mula2 Bima disuruh mencarinyadi gunung Candradimuka. 2 raksasa menghadangnya di jalan, namun mreka dpt dbunuhnya dan trnyta mreka penjelmaan Batara Indra dan Batara Bayu. Namun Bima tdk menemukan tirta pawitra dan Bima kembali ke Guru Durna. Bima disuruh mencari di dlm pusat samudra. Para Kurawa mengharap dalam perjalan ini Bina akan menemui ajalnya. Mula2 Bima dihalang2i oleh seekor naga besar yg akhirnya dpt dibunuhnya. AKhirnya smpailah Bima ke t4 yg sunyi dan hening. Berjumpalah Bima dgn Dewa Ruci yg sudah mengetahui siapa buma dan apa tujuan na ke dasar samudra. Bima disuruh masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci dan disini memperoleh beraneka ragam dan akhirnya muncul wujud boneka gading. " Itulah hidup di dlm dirimu Bima" tutur Dewa Ruci. Bima telah mendapatkan apa yg dicari yait Tirta Pawitra atau air hidup. (isi crita disingkat krn mungkin bnyk yg sdh tahu ttg crita ini).

Renungan Filsafat:
Filsafat didlm serat Dewa Ruci ini adalah filsafat mistik (mystical phylosophy) yg diperoleh tidak melalui penalaran rasional, melainkan melalui penghayatan batin dgn jalan semedi. Di dlm kesadaran semedi manusia memperoleh pengetahuan penghayatan. Pengetahuan serat ini menggambarkan bahwa "aku" mengatasi kesadaran "aku", masuk ke dalam alam tak sadar dan bersatu dgn Sang Hyang Tunggal dan memperoleh pengetahuan dgn mlihat hakekat hidup sbg boneka. Tergambar disini proses transenden dari kesadara ego (panca indrawi) mnuju kesadaran Tunggal dan akhirnya mencapai kesadarn Ilahi atw alam semesta. Seluruh prosesini mnejadi experiental knowledge dan dituangkan ke dalam conceptual knowledge pada antropologi da epistemologi mistik.
Cerita ini bukanlah memberi penggambaran alam semesta melainkan menggambarkan penghayatan bathin, bukan trmasuk alam fisika namun alam psikologi. Bukan pula manusia harus branjak dari mitos ke logos atw dr tahap mitologi ke ontologi, melainkan mitos dan logos dpt hidup berdampingan..
di Jawa sndiri dikenal sbg Sangkan Paraning Dumadi...

4. Paku Buwana IV (1789-1820)


Karya: Wulangreh

Isi: Kitab Wulangreh ini ditujukan kpd kerabat raja. Paku Buwana IV memberi tata laku susila sehingga akhirnya manusia dpt menemukan inti sari Al-Qur'an brupa RASA JATI dgn kata2 "jroning Qur'an nggoning roso jati". Tata lku ini menjadi landasan utk memimpin negara dgn benar dan adil. Mula2 digambarkan bahwa org tdk blh mengandalkan diri sbg bangsawan dan ktrunan raja serta mengandalkan kemampuan pribadi.
Haruslah dihindari sifat-sifat :
1. Adigang : mengandalkan kepintaran seperti seekor rusa mengandalkan kemampuan larinya
2. Adigung : mengandalkan kekuatan jasmaninya, seperti gajah mengandalkan tbh besarnya
3. Adiguna : mengandalkan kekuatan jasmani rohaninya utk mengalahkan org lain, sprti ular mengandalkan bisanya.

Dgn meninggalkan sifat2 trcela ini, manusia kini mencari jln yg benar. Titik tolaknya adalah seorg raja atw pemimpin yg harus memimpin dan melindungi rakyatnya. Seorang pemimpin tdk blh memiliki "saudara, anak atw istri", dlm kata lain pemimpin hanya memiliki kebenaran dmn seseorang pemimpin tdklah boleh mendasarkan tindakannya atas hub kerabat, melainkan atas kebenaran dan keadilan semata.

Tata laku susila digambarkan sbg brikut:
Pertama2 manusia harus mmperhatikan kebutuhan jasmaninya, yaitu menghindari memanjakan bdn jasmaninya dgn mngurangi makan dan tidur, mngendalikan hawa nafsu dan keinginan2 yg slalu menggelora di dlm hatinya.
Kedua mengendalikan mulut, artinya mengawasi ucapan2 yg dpt menyakiti hati org lain.
Ketiga memupuk budi luhur dan mengambangkan sifat ksatria brupa :
a. Anteng jatmika ing budi = tenang dlm pikir dan laku
b. Luruh sastra = sopan dan hati2 dlm bicara
c. Wasis sembarang tanduk = mmpu menyelesaikan tgs dan kewajiban
d. Prawira ing batin = bijaksana dlm menilai.

Keempat menjalankan ibadat syari'at dgn tertib.
Kelima mengambil teladan dari para leluhur yg tlah membuktikan dapat mencapai pengetahuan agung berupa mengerti dan menghayati Manunggaling Kawula Gusti.

trlukis dalam sbgian bait.
"Sasmitaning ngaurip puniki
wrung ing rasa kang satuhu,
rasaning rasa punika,
upayanen darapon sampurneng diri, ing kauripnira."

"Tanda petunjuk yg diproleh dlm hidup ini
ditrima oleh rasa sejati
Usahakanlah kaumiliki rasa ini
agar kaucapai kesempurnaan hidupmu."

Ulasan: Etika serat ini bukanlah merupakan penalaran teoritis belaka Umumnya tulisan ttg kesusilaan merupakan etika praktis. Tata laku susila yg dilukiskan di dlm serat ini mrupakan persiapan dalam usaha manusia mencapai kesempurnaan dan pengetahuan trtinggi dgn Manunggalin Kawula Gusti melalui penghayatan isi Al-Qur'an sehingga dia dpt hidup dan memimpin secara benar dan adil.

5. Ranggawarsita (1802-1873 M)


Ranggawarsita adalah cucu dari Yasadipura II dan mrupakan pujangga ketiga dari turunan Yasadipura I. Waktu kecilnya bernama Bagus Burham dan sesudah diangkat menjadi pegawai kraton dianugrahi nama Ranggawarsita. Dia telah mnulis banyak karya antara lain : babad, filsafat keagamaan, ramalan, sejarah pewayangan dll.

Karya :
a. Serat Wirid Hidayah Jati
b. Paramayoga, Pustaka Raja Purwa, Kalatidha, Saloka pari basa

Isi: Di dlm pndahuluan Wirid Hidayah Jati ini, Ranggawarsita mengatakan bahwa kitab ini berisi "Ngelmu Ma'rifat Kasampurnaning Ngaurip" yg menjadi ajaran para wali. Renungan2 filsafat brupa metafisika antara lain ontologi, kosmogoni dan antropologi, dan filsafat etika.

Metafisika berupa penyataan2 ttg "Ada", penciptaan Alam Semesta dan Manusia, di mana Ada Mutlak dan Pertama adalah Tuhan.
1. Ontologi
"Bahwa sesungguhnya tidak ada apa2, krn waktu msh hampa blm ada brg sesuatu, yg prtama2 Ada adalah kami; tidak ada Tuhan melainkan Kami, Hakekat Zat Yang Maha Suci, meliputi segala sifat Kami, memberitakan Nama Kami, mengisyaratkan Af'al (perbuatan) kami."

2. Kosmogoni
"Bahwa sesungguhnya Kami, Zat Yang Maha Kuasa itu berkuasa menciptakan brg sesuatum sesaat dpt trcipta dgn smpurna krn kodrat Kami, di situ sudah menjadi nyata pertanda af'al Kami sbg pembukaan iradat Kami; yg pertama-tama kami ciptakan adlh pohon (kayu) dinamakan SAJARATU'L YAQIN, tumbuh dalam alam adam makdum azali, kemudian CAHAYA dinamakan Nur Muhammad, kemudia CERMIN dinamakan Miratu'lkayai, kemudian Jiwa dinamakan Roh Ilahi, kemudian LAMPU dinamakan Kandhil, kemudia PERMATA dinamakan Darah, kemudian DINDING JALAL dinamakan Kijab, sbg tabir wajah Kami."

3. ANtropologi
"Sesungguhnya Manusia itu adalah rasa kami, dan kami adalah rasa manusia, karena Kami menciptakan Adam berasal dari 4 anasir kasar, tanah, api, angin, air yg menjadi perwujudan sifat Kami; kemudian di dalamnya Kami isikan 5 unsur halus nur, rasa, roh, nafsu, budi, ialah sbg tabir wajah Kami Yang Maha Suci."
"Kemudian Kami membangun3 Mahligai di dlm tubuh manusia;
a. Baital Makmur di dlm kepala
b. Baital Muharram di dlm dada
c. Baital Mukaddas di dlm alat kelamin.

Terciptalah manusia sempurna, ialah hakekat Sifat Kami."

Manusia selengkapnya mempnyai 7 unsur yaitu Khayu = hidup, Nur = cahaya, Sir = rasa, Roh = sukma, Nafsu = angkara, Akal = Budi, dan Jasad = badan.
Penciptaan manusia juga dsebut sbg "Sangkanparaning Tanazultarki" atw awal akhir dan turun serta naik kembali.
"Kami naik dr alam Insan Kamil, sampai di alam Ajsam, trus ke alam Misal, ke alam Arwah, ke alam Wakhidiyat, ke alam Wahdat, dan ke alam Akhdiyat, kemudian smpe lg di alam Insan Kamil".

Etika: etika dlm serat ini brupa etika praktis yaitu tata laku susila sbg sarana utk memungkinkan transformasi dari manusia biasa menjadi manusia sempurna dlm istilah mistik disebut sufi atw tasawuf. Titik tolaknya adlh eksistensi manusia dalam struktur jasmani-rohaninya. Plaksanaannya disebut "Tapaning Ngaurip"--bertapa dlm hidup.
1. Badan jasmani bersikap mnguasai diri
2. Budi bersikap menerima
3. Nafsu bersikap rela
4. Jiwa bersikap bersungguh hati
5. Rasa bersikap mampu berdiam dan berserah diri
6. Cahaya bersikap suci, bersih dan hening
7. Atma bersikap awas sadar.

Tata laku susila ini diteruskan dgn menjalan semedi yg dlm kitab Wirid Hidyat Jati ini disebut "Manekung".

Ulasan:
1. Mistik Islam, di Barat lbh dikenal dgn Sufisme, di Indonesia dikenal dgn Ilmu Suluk. Suluk brasal dr kata kerja Arab salaka yg brarti perjalanan. Eksistensi manusia dianggap sbg sdang dalam perjalan, darang dari asalnya dan kembali pada asalnya lagi yg diistilahkan SANGKAN-PARAN. Perkataan Ma'rifat di dlm ilmu ini diambil dari tngkat trakhir dalam perjalanan manusia menuju Tuhan yaitu Syari'at, Tariqat, Hakekat, dan Ma'rifat. Dpt kita lihat bnyk istilah diambil dari QUr'an dan Hadis antara lain ketujuh unsur kelengkapan manusia, dari hisup smpai bdn jasmani.

2. Meditasi tlah dilakukan oleh brbagai bangsa dan plaksanaan agama masing2. Walaupun dgn bnyk cara, namun konsep dasarnya adalah sama yaitu mempergunakan struktur jasmani-rohani manusia sbg alat transformasi menuju ke tingkat kemanusiaan dan keIlahian trtinggi.

6. Mangkunegara IV (1809-1881 M)


Karya:
a. Wedhatama
b. Tripama

Isi: Mangkunegara IV bertujua memberi nasehat dan petunjuk kepada ahli warisnya utk memakai dan ttp mlaksanakan ilmu agama yg tlah turun temurun menjadi pegangan para kerabat kerajaan, yaitu "Agama ageming aji". Pokok nasehat adalah petunjuk tata laku susila di dlm msyarakt dan di dlm menjalankan ibadah, baik lahir atw batin sehingga mencapai kenyataan dan pengetahuan trtinggi yaitu ma'rifat.

Bab I menggambarkan tingkah laku anak muda yg brtindak angkuh krn mempnyai darah bangsawan dan mengandalkan cara ibadah lahiriah saja.

Bab II memberi tata laku kpd org muda dgm mengambil cth Panembahan Senopati. Manusia hrs dpt mngurangi keinginan naluri dasarnya yaitu mngurangi makan dan tidur serta gelora nafsu lainnya.

Bab III menegaskan bhwa utk mmperoleh ilmu kita harus mnjalankan tata laku susila dgn usaha pandai mengendalikan nafsu angkara murka. Sehingga dlm hidup sehari2 brsikap rela-trima-legawa.

Bab IV memerinci pnerapan 4 macam cara ibadah mnuju kesempurnaan diri, yaitu sembah raga, kalbu, jiwa dan rasa. Wedhatama sbnrnya brisikan hasil pengamatan empiris trhadap penghayatan hidup yg mmpunyai 3 dimensi yaitu kehidupan lahir, batin, dan khidupan alam gaib. Tata laku susila ditujukan trhadap k3 dimensi kehidupan itu, yg brpuncak pada penghayatan dan pengetahuan hakekat hidup dgn perjumpaan manusia dan Tuhan.

1. Kehidupan Lahir harus memenuhi kebthan khidupa bermasyarakat
a. Menegakkan hidup pribadi agar dpt mandiri
b. Trhadap sesama manusia harus bertindak mengutamakan kepentingan org lain .

2. Kehidupan Batin
Untuk menjalani hidup batin dgn baik, qt hrs mmpnyai ilmu, yaitu Ilmu Ma'rifat yg hanya dpt diperoleh dgn tata laku susila, ialah mengendalikan nafsu angkara murka. sprti ungkapan "Ngelmu iku kalakone kanthi laku", "Pangekesing dur angkara". Tujuan hidup batin ini adalah usaha "anggambuh mring Hyang WIsesa"

3. Khidupan Gaib.
Ada 4 tingkatan ibadah dlm serat ini
a. Sembah raga yaitu menjalankan syari'at dgn jasmani kita
b. Sembah Qalbu yaitu membersihkan diri dari keinginan2 hati
c. Sembah Jiwa yaitu mnguasai panca indra dan nafsu dgn semedi
d. Sembah rasa yaitu mengidupkan rasa jati dalam diri manusia.
serat ini brisikan pandangan filosofis religius..

 


Sumber: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2920097

Terakhir Diperbaharui (Senin, 24 May 2010 11:05)

 
Kearifan Lokal
Filsafat Indonesia
Pengumuman

Pengumuman di sini...